Beberapa atlet begitu superior di eranya melebihi atlet lain hingga mereka terkesan menguasai zamannya. Tidak semua atlet hebat itu bermain di cabang olahraga yang populer di seluruh dunia, maka, tanpa bermaksud mengecilkan atlet-atlet besar yang bermain di cabang-cabang dengan popularitas global yang terbatas itu, kebanyakan atlet di daftar ini adalah atlet-atlet dari olahraga yang dimainkan di kebanyakan tempat di dunia (misalnya senam, renang, dan atletik, tiga olahraga itu telah dimainkan nenek moyang kita di halaman rumah mereka jauh sebelum mobil balap, sepatu bola, dan helm aerodinamik diciptakan…)
30 (+1). Ge Fei/ Gu Jun (bulutangkis, China)
Bulutangkis mungkin bukan cabang olahraga yang terlalu populer secara global, tetapi sebagai orang Indonesia, salah satu negara bulutangkis terbesar, saya merasa pantas memasukkan atlet bulutangkis di sini, dan karena daftar atlet Indonesia akan saya buat terpisah, saya harus memilih atlet asing. Hebatnya, saya tidak menemukan satu pun pemain tunggal asing yang lebih besar daripada pemain kita di era 1990an. Tetapi tentang dua nama ini, they’re simply too good untuk pemain kita atau pemain manapun. Data yang saya temukan menyebutkan bahwa Ge dan Gu menjuarai 40 lebih turnamen IBF, tidak terkalahkan selama 4 tahun 6 bulan terakhir sebelum pensiun, tidak pernah kehilangan set selama 3 tahun, tidak pernah kalah di Piala Uber, dan tidak pernah membiarkan lawan melebihi angka 10 selama 2 tahun. Scary.
29. Vitally Scherbo (senam, Belarus)
Kehadirannya di dunia olahraga memang sangat singkat, sekitar lima tahun, tapi dalam masa yang singkat itu Scherbo adalah topan badai yang menyapu semua gelar yang ada di hadapannya. Scherbo tidak mempunyai spesialisasi nomor, dia sama hebatnya di setiap alat, kedelapan nomor resmi senam putra pernah di juarainya di Olimpiade dan Kejuaraan Dunia antara 1991 dan 1995. Tetapi kemalangan tak peduli pada sehebat apa prestasi seseorang, tahun 1996 istrinya, Irina, mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah dan mengalami koma panjang, Scherbo berhenti berlatih dan mendampinginya berbulan-bulan. Ketika istrinya pulih, Scherbo sendiri yang mengalami kecelakaan sepeda motor dan akhirnya pensiun. Tapi cukup dengan 5 tahun berkompetisi, he’s the greatest already.
28. Krisztina Egerszegi (renang, Hungaria)
Jumlah medali di event tertinggi yang pernah diraih Egerszegi mungkin tidak sespektakuler Phelps, Otto, Spitz, atau Biondi. Itu disebabkan karena dia sangat fokus pada nomor-nomor andalannya dan memilih untuk tidak tampil di nomor lain, dan di nomor-nomor andalannya itu – nomor-nomor jarak menengah untuk gaya punggung dan gaya ganti – The Mice hampir tidak tersentuh. Selain dinobatkan sebagai perenang terbaik dunia 4 kali sepanjang era 1990an, Egerszegi juga memegang dua rekor dunia selama lebih dari 15 tahun, menjuarai 3 Olimpiade berturut-turut dengan rekor 5 emas untuk nomor individu, rekor yang baru bisa dipecahkan oleh Michael Phelps, 12 tahun kemudian.
27. Peter Schmeichel (sepakbola, Denmark)
Jujur saja, badan pemberi penghargaan dalam sepakbola kurang menghargai penjaga gawang. Berapa kali seorang penjaga gawang menjadi pemenang Pemain Terbaik ini itu? Hampir tidak pernah. Lalu sebesar apa peran mereka pada keberhasilan tim menjuarai sesuatu? Tanyakan pada timnas Denmark di tahun 1992 dan Manchester United sepanjang 1990an, yang tanpa orang satu ini, belum tentu bisa meraih apa yang mereka raih. Puluhan penyelamatan yang hanya bisa dilakukan olehnya, ribuan bentakan dan peringatan yang membuat pemain belakang lebih waspada, semua berandil besar untuk keberhasilan Denmark menjuarai Euro 1992 dan berbagai gelar United. Lalu penghargaan individu apa yang pernah diraih The Great Dane selain berbagai gelar ‘penjaga gawang terbaik’? Tidak ada. That’s ridiculous.
26. Stefka Kostadinova (atletik, Bulgaria)
Jika di era 2000an Isinbayeva adalah ‘the untouchable woman’ dalam atletik, maka di era 1990 Stefka Kostadinova adalah orangnya. Setelah memecahkan rekor dunia dengan lompatan 2,09 meter di tahun 1987, Kostadinova jarang bisa didekati atlet lain. Rekornya masih bertahan sampai sekarang, 23 tahun kemudian, dan menjadi salah satu rekor tertua atletik modern. Sepanjang karirnya, Kostadinova telah melompat di atas 2 meter 197 kali dalam turnamen resmi. Sebagai perbandingan, pelompat terbaik saat ini, Blanka Vlašic, melewati angka itu sebanyak 43 kali. Silakan bandingkan sendiri.
25. Andre Agassi (tenis, Amerika Serikat)
Andre Agassi bukan hanya petenis dengan potongan rambut terburuk sepanjang zaman (panjang atau pendek, sama saja), tapi dia juga salah satu yang terbaik. Agassi adalah satu dari dua pemain yang berhasil memenangkan gelar tunggal di keempat Grand Slam selama era 90an (satu pemain lain itu kelak akan menjadi istrinya), dan memenangkan lima gelar Grand Slam di dekade dimana seorang terminator bernama Pete Sampras bermain bukanlah hal yang mudah. Agassi, the great serve-returner, the nice guy, adalah salah satu atlet terbaik di era 1990an, tak perduli senorak apa pakaian atau potongan rambutnya.
24. Julio César Chávez (tinju, Meksiko)
Masa keemasan utama Chavez mungkin adalah akhir era 80an, tetapi sampai Januari 1994, dia adalah petinju yang tidak terkalahkan dan masih dianggap sebagai salah satu petinju terbaik pound per pound. Dalam karir panjangnya, legenda Meksiko ini memenangkan 7 gelar juara dunia dalam 3 kelas berbeda, dan 3 dari 7 itu dimenangkannya di era 1990an, dia pensiun setelah memenangkan 107 dari 115 pertandingannya, 86 diantaranya dengan K.O, dan itu masih menjadi salah satu rekor paling mengerikan dalam sejarah tinju.
23. Mia Hamm (sepakbola, Amerika Serikat)
Di era 1990an – walaupun ada pemain sebaik Sun Wen, Sisi, atau rekan-rekannya sendiri di timnas A.S – Mariel Margaret Garciaparra, alias Mia Hamm, hampir bisa dibilang sendirian menyejajarkan sepakbola wanita dengan cabang-cabang lain. Selama dekade itu, Hamm tergabung dalam timnas yang merebut dua kali juara dunia dan satu kali juara Olimpiade. Dia memperkuat timnas sebanyak 275 kali, hanya ada satu pemain sepakbola lain yang bermain lebih sering dari itu. Golnya untuk timnas? 158. Tidak ada pemain lain, pria atau wanita, yang bisa melebihi, atau bahkan sekedar mendekati angka itu.
22. Michael Schumacher (balap mobil Formula 1, Jerman)
Sejak awal kemunculannya di awal 1990an, Schummy telah terlihat akan menguasai F1 di masa depan. Ternyata The Rain King perlu waktu lebih lama untuk menjadi yang terbaik sepanjang sejarah, baru di dekade 2000an dia mencapai itu. Tetapi di era 1990an pun Schumacher telah menjadi yang tersukses di antara pembalap di masa itu, dia menjadi juara dunia dua kali (1994, 1995) dan memenangkan 35 lomba sepanjang dekade itu, termasuk rekor 9 lomba di musim balap 1995. Sign of greatness to come.
21. Rivaldo (sepakbola, Brazil)
Sepanjang era 1990an, Rivaldo bisa disebut sebagai bintang sepakbola paling stabil dan tak pernah mengalami masa surut. Karirnya dimulai tepat di awal era 1990an di Santa Cruz, lalu dia pindah ke Mogi Mirim, Corinthians, Deportivo La Coruna, dan akhirnya berpuncak di Nou Camp bersama Barcelona, di sana Rivaldo menjalani tahun-tahun terbaik dalam karirnya. Selain menjadi juara La Liga dua kali di dua tahun terakhir dekade 1990an, Rivaldo meraih semua penghargaan pribadi paling prestisius tahun 1999 : Ballon d’Or, FIFA World Player of the Year, dan World Soccer Player of the Year. Semua pemain yang dianggap pantas menyatukan tiga penghargaan itu tentu bukan atlet biasa-biasa.
20. Judit Polgár (catur, Hungaria)
Selama puluhan, atau mungkin ratusan tahun, tradisi telah memisahkan atlet laki-laki dan perempuan. Hingga di akhir era 1980an, seorang gadis kecil dari Budapest menyatakan bahwa dia ingin mendobrak batas itu. Saat itu, gadis berusia 11 tahun ini baru saja mengalahkan seorang grandmaster pria, dan elo ratingnya telah melebihi juara dunia wanita saat itu. Di tahun 1991, Judit Polgár, nama gadis itu, meraih gelar Grand Master penuh dalam usia 15 tahun 5 bulan, rekor pada saat itu. Judit tidak pernah tertarik menjadi juara dunia wanita dan memilih mengikuti turnamen pria. Selama dekade 1990an, rankingnya selalu berada di jajaran 20 besar pecatur pria, sementara dua kakaknya bergantian menjadi juara dunia catur wanita (dan keduanya mengaku Judit bukan tandingan mereka). Judit Polgár, melegenda sejak remaja, adalah atlet pertama yang menembus batas gender dengan hasil yang baik dan bukan sekedar sensasi.
19. Roberto Baggio (sepakbola, Italia)
Pemain sepakbola Italia, sebintang apapun, lebih dikenal untuk pemahaman taktis mereka, bukan karena teknik individu yang menghibur, jangan katakan itu tentang The Divine Ponytail. Baggio adalah species istimewa pemain sepakbola, dan era 1990an – di masa dia bermain untuk Juventus, Milan, Bologna, dan Inter – adalah saksi sentuhan-sentuhan ajaibnya. Prestasi internasional Baggio bersama klub memang tidak terlalu mentereng, tetapi dia adalah anggota timnas Italia yang menjadi peringkat tiga Piala Dunia 1990 dan runner-up di tahun 1994. Dia juga adalah Pemain Terbaik Dunia dan peraih Ballon d’Or di tahun 1993, dan hampir tak ada yang tidak setuju ketika dia termasuk dalam daftar 100 Pesepakbola Terbaik Sepanjang Zaman.
18. Carl Lewis (atletik, Amerika Serikat)
Carl Lewis adalah atlet atletik terbaik era 1980an, dan ternyata tidak berhenti sampai di situ, memasuki dekade 1990an, dia masih menyapu berbagai medali emas di event tertinggi, walau kali ini dia lebih fokus di nomor lompat jauh dan estafet 4 x 100 meter, bukan lagi di nomor 100 meter yang membuatnya terkenal sebelumnya. Lewis meraih 3 medali emas Olimpiade dan 2 emas Kejuaraan dunia di era 1990an. Di tahun 1999, I.O.C. menobatkannya sebagai Sportsman of the Century, sementara I.A.A.F. menggelarinya World Athlete of the Century. Gelar yang pantas.
17. Oscar De La Hoya (tinju, Amerika Serikat)
The Golden Boy adalah petinju yang paling banyak meraup uang dari karir bertinjunya sepanjang sejarah. Tapi terlepas dari soal uang, dia adalah petinju hebat, dan kehebatannya berasal dari era 1990an. De La Hoya meraih medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona, dan karir profesionalnya menanjak dengan cepat, dia meraih 3 gelar juara dunia di 3 kelas berbeda, dan tak pernah terkalahkan sampai dekade 1990an mendekati akhir, ketika dia dikalahkan Felix Trinidad, Agustus 1999. Total, De La Hoya telah pernah memegang 10 sabuk juara dunia berbeda di 6 kelas dan telah pernah mengalahkan 17 juara atau mantan juara dunia.
16. Romario (sepakbola, Brazil)
Pada tahun 2007, Romario konon menyamai rekor Pele dan Puskas: mencetak 1.000 gol selama karirnya. Rekor tersebut dianggap tidak sah karena Romario juga menghitung golnya di level junior dan laga persahabatan. Terdengar seperti usaha mencari sensasi yang menyedihkan dari seorang pemain tua. Tetapi di era 1990an, sensasi Romario adalah sensasi sungguhan, dia mengantar Brazil menjadi juara dunia 1994, meraih Sepatu Emas dan gelar Pemain Terbaik Dunia di tahun yang sama. Romario adalah salah satu pencetak gol paling produktif di era itu, dia adalah top skorer Liga Belanda tahun 1990, 91, dan 92, serta Liga Spanyol tahun 94. Untuk Brazil, Romario mencetak 55 gol dalam 70 pertandingan, hanya Pele yang mencetak lebih banyak gol untuk Brazil.
15. Tiger Woods (golf, Amerika Serikat)
Tiger Woods adalah atlet tersukses di dekade pertama abad 21, dan di dekade terakhir abad 20 dia telah menjadi fenomena. Sejak usia 2 tahun, Tiger telah masuk televisi karena bakat golfnya, dan ketika dia mulai berkarir sebagai pegolf amatir di usia belasan, keterkenalannya membuat iri banyak pegolf PGA Tour, dan itu bukan tanpa alasan, prestasinya sebagai amatir nyaris tidak masuk akal. Dan ketika Tiger berpindah menjadi pegolf pro di tahun 1996, keributan (dan nilai kontrak sponsor) yang disebabkannya juga tidak masuk akal. Woods tidak membuang-buang waktu, dia langsung menjadi pegolf nomor 1 di tahun keduanya sebagai profesional, memenangkan 2 turnamen major, dan 13 turnamen lain dari tahun 1996 sampai 1999, world domination tinggal menunggu waktu.
14. Martina Hingis (tennis, Swiss)
Di pertengahan 1990an, ketika orang masih berdebat siapa yang terbaik, Graf atau Seles, seorang bocah kelahiran Slovakia yang berimigrasi ke Swiss tiba-tiba memutus semua perdebatan. Dia meroket ke jajaran elit tennis putri dunia tanpa banyak membuang waktu, dia memecahkan rekor ‘termuda’ dalam berbagai hal, memenangkan 5 gelar Grand Slam tunggal antara 1997-1999, memenangkan berbagai gelar ganda, dan menjadi pemain nomor satu dunia secara bersamaan untuk tunggal dan ganda. Semua itu dilakukannya sebelum berumur 20 tahun. Memasuki abad 21, Hingis diterpa berbagai masalah, baik fisik maupun pribadi (dan kemudian kokain), yang membuat karirnya berakhir prematur, tetapi di akhir abad 20, The Swiss Miss adalah salah satu fenomena terbesar dunia olahraga.
13. Serhiy Bubka (atletik, Ukraina)
Ketika kata ‘dominasi’ terdengar dalam olahraga, salah satu orang yang paling tepat mewakilinya adalah Serhiy Bubka. Sepanjang dekade 1980an, Bubka tidak punya lawan, dia sibuk memecahkan rekor atas namanya sendiri 9 kali untuk outdoor dan 10 kali untuk indoor. Dekade 1990an? Sama saja. Bubka masih tidak punya lawan dan masih sibuk sendiri memecahkan rekor, 8 kali outdoor, 8 kali indoor. Perbedaannya, di era 1990an dia selalu gagal di Olimpiade, sesuatu yang hampir tidak masuk akal mengingat tak satu pelompat galah lain pun setara dengannya. Tetapi hal seperti itu biasa terjadi dalam olah raga, dan itu tidak cukup untuk menodai reputasi Bubka sebagai salah satu atlet paling dominan sepanjang zaman.
12. Roy Jones, Jr. (tinju, Amerika Serikat)
Ketika tinju kelas berat di era 1990an dikotori oleh kekonyolan-kekonyolan yang tak pernah terjadi di era lain, kelas-kelas lain justru melahirkan petinju-petinju istimewa, Roy Jones, Jr. adalah salah satunya. Jones mulai dikenal ketika sebagai petinju amatir dia secara kontroversial kalah dari petinju Korea Selatan di final Olimpiade Seoul. Memasuki era 1990an, Jones beralih ke tinju profesional, tak terkalahkan, dan menjadi petinju terbaik di eranya. Dia meraih gelar pertamanya di kelas menengah tahun 1993, naik ke super menengah di tahun 1994, dan berat ringan sejak tahun 1996, kalah satu kali dan akhirnya menguasai kelas itu sejak 1997. Teknik bertinjunya yang sempurna dan kecepatannya yang luar biasa mengantarnya menjadi petinju tersukses dalam dekade 1990an.
11. Michael Johnson (atletik, Amerika Serikat)
Sepanjang 1990an, Johnson benar-benar terlalu cepat untuk semua lawannya di nomor 200 dan 400 meter. Tahun 1996 dia menyabet emas Olimpiade baik untuk 200 meter maupun 400 meter. Dia juga menjadi yang terbaik 2 kali di Kejuaraan dunia untuk 200 meter, dan 4 kali untuk 400 meter. Itu belum termasuk kesuksesannya di nomor estafet. Dengan gaya lari yang aneh dan seperti menyalahi banyak teori, Johnson tak terkejar selama satu dekade.
10. Monica Seles (tenis, Yugoslavia/Amerika Serikat)
Pertanyaan ‘Steffi atau Monica?’ adalah pertanyaan utama di tennis wanita awal 1990an. Ketika Graf belum lama mengambil alih dominasi dari tangan Navratilova dan Evert-Lloyd, Seles mengancam dominasi baru itu dengan serius. Sepanjang 1991 dan 1992, pemerhati tennis seakan tidak percaya bahwa Graf tiba-tiba menjadi nomor dua, Seles menyapu 6 gelar Grand Slam dalam 2 tahun itu, dan hanya menyisakan 3 untuk Graf. Lalu datanglah insiden kekerasan yang sangat tidak menyenangkan itu, salah satu kisah terburuk dalam sejarah tennis, dan pesta gelar Seles pun berakhir dengan menyedihkan. Seles kembali ke dunia tennis tahun 1995 dan berhasil merebut lagi 1 gelar Grand Slam, tetapi dia bukan lagi petenis yang dominan, dan kebanyakan orang yakin bahwa andai penikaman itu tidak pernah terjadi, gelar Grand Slam yang dimiliki Monica akan berlipat ganda, bukan ‘hanya’ delapan.
9. Haile Gebrselassie (atletik, Ethiophia)
Dari sumur pelari jarak jauh yang tak mengenal kemarau, Ethiophia, lahirlah salah satu atlet atletik terbaik sepanjang zaman : Haile Gebrselassie. Selassie menjuarai 2 Olimpiade dan 5 kejuaraan dunia sepanjang dekade 1990an untuk jarak 10.000 meter, dia juga merupakan pelari yang sulit dikalahkan di jarak 1.500 meter, dan menjelang akhir karirnya The Great Haile beralih ke marathon, dan di nomor itu pun dia berhasil memecahkan rekor dunia, salah satu dari 27 yang pernah dipecahkannya di 5 nomor berbeda. Magnificent .
8. Michael Doohan (balap motor, Australia)
Mick Doohan menguasai balap motor GP 500 CC sejak tahun 1994 sampai 1998, dan dalam lima tahun itu dominasinya tak terbayangkan: dari 71 lomba dalam 5 tahun itu, hanya 26 yang tidak berhasil dia juarai, kurang dari setengahnya, dan dari 26 itu, dia berhasil finish 20 kali, 15 kali di antaranya di posisi kedua, dan 5 kali lainnya di 6 besar. Superioritasnya mungkin mendapat bantuan yang sangat besar dari superioritas motor Honda rancangan Jeremy Burgess yang selalu ditungganginya, tetapi bagaimanapun, tetap tak cukup alasan untuk memilih orang lain menjadi atlet otomotif paling dominan sepanjang dekade 1990an.
7. Zinedine Zidane (sepakbola, Prancis)
Di luar lapangan, Zizou adalah ikon. Di dalam lapangan, dia tukang sihir. Semua tim yang mempunyai Zidane hampir dijamin meraih kesuksesan dalam level tertentu, sejak Maradona, tak ada pemain yang bisa seberpengaruh itu. Tak banyak lagi yang masih perlu diceritakan tentangnya, kita hampir tahu semuanya. Oh ya, kisah penyerudukannya terhadap Materazzi terjadi di abad 21, jadi sepanjang 1990an – dengan menganggap perbuatannya menginjak pemain Arab Saudi hanya cerita tidak perlu – kebesaran Zidane hampir tidak ternoda.
6. Miguel Indurain (balap sepeda, Spanyol)
Konon, Indurain, raksasa Basque itu, mempunyai kapasitas paru-paru dan kemampuan kerja jantung dua kali lipat rata-rata manusia normal. Terserahlah, bawaan lahir seperti itu tidak akan membuat seseorang didiskualifikasi dari sebuah turnamen, dan tidak menghalangi fakta bahwa Miguelon adalah pembalap paling superior di dekade 1990an dan salah satu atlet paling dominan di masanya. Indurain menjadi orang pertama yang menjuarai Tour de France lima kali berturut-turut, dia juga menambahnya dengan kemenangan-kemenangan di Giro de Italia, Olimpiade, dan Kejuaraan Dunia. Sebelum prestasi Lance Armstrong di abad ke 21 menyainginya, Miguel Indurain dianggap tak punya saingan berarti untuk dinobatkan sebagai pembalap sepeda terbaik di zaman modern.
5. Ronaldo (sepakbola, Brazil)
Untuk anda yang tidak cukup tua untuk mengalami era 1990an : si gemuk yang terlupakan itu pernah jadi pemain hebat dengan skill yang sulit dicari bandingannya. Selama dekade ini, dia hampir tidak bisa dihentikan, cepat, tangguh, dan imajinatif, semuanya dengan kadar di atas normal. Dari awal karirnya tahun 1993 sampai 1999, Ronaldo menciptakan 118 gol dari 137 pertandingan untuk klub, dan 46 gol dari 63 pertandingan untuk Brazil, rasio yang mendekati 1:1. Bersama klub dan negara, dia juga telah meraih semua gelar yang mungkin diraih, belum lagi penghargaan pribadi sebagai FIFA World Player of the Year 1996, 1997, Ballon D’Or 1997, dan berbagai gelar lain. Ronaldo adalah produk terbaik sepakbola 1990an, The Phenomenon.
4. Pete Sampras (tennis, Amerika Serikat)
Tennis putra 1990an adalah tentang Pete Sampras, dia tak pernah lama terlewati di posisi nomor 1 sejak 1993, dan memenangkan 11 (dari total 14) grand slamnya antara 1993 sampai 1999. Sampras begitu super di masa kejayaannya sampai dianggap ‘membosankan’, teknik serve and volley-nya yang sempurna nyaris tak bisa dilawan di lapangan rumput dan lapangan keras, belum lagi servenya yang mematikan, membuat setiap point cenderung pendek karena rally panjang yang menghibur sangat jarang terjadi ketika dia bermain. Tetapi Sampras adalah seorang atlet, bukan penghibur, 286 minggu di nomor satu adalah rekor yang belum terlewati siapapun, dan rekor 14 grand slam-nya baru terlewati Roger Federer di tahun 2000an ketika – menurut sebagian orang – tingkat persaingan tidak seketat era 1990an. Petenis hebat seperti Courier, Agassi, Rafter, Kafelnikov, Ivanisevic, Muster, dan banyak lagi ada di era ini, dan mereka semua selalu berada di bawah Sampras.
3. Garry Kasparov (catur, Russia)
Siapa atlet di era 1990an yang paling mutlak dominasinya dan keabsahannya sebagai ‘yang terbaik’ paling sulit digugat? This guy, dan dia menancapkan dominasinya sambil duduk berjas tanpa menyandang gelar juara dunia resmi. Menyebutkan dari tahun berapa sampai tahun berapa Kasparov menjadi juara dunia adalah hal yang rumit karena versi juara dunia yang beragam, yang kebanyakan disebabkan pemberontakan Kasparov sendiri (Kasparov keluar/dikeluarkan dari FIDE tahun 1993). Yang jelas, Kasparov menjadi pecatur berelorating tertinggi – yang berarti pecatur terbaik dunia – hampir sepanjang karirnya sebagai Grand Master, kurang lebih 21 tahun, sejak 1985 sampai 2006, itu berarti mencakup sepanjang dekade 1990an, dan siapapun pecatur yang sedang menjadi juara dunia FIDE dalam kurun waktu itu tidak pernah dianggap orang ‘juara dunia sungguhan’, karena masih ada Garry Kasparov, juara di atas juara.
2. Steffi Graf (tennis, Jerman)
Graf memenangkan 8 gelar tunggal putri Grand Slam di akhir dekade 1980an, lalu dia akan berhenti sampai di situ? Tampaknya ya, karena di awal dekade 1990an tiba-tiba Monica Seles mengancam dominasinya, Graf hanya memenangkan 3 gelar ketika Seles menyapu 6, sampai kecelakaan itu terjadi. Itu baru setengah dari kisah sukses Steffi di Grand Slam. Dia masih memenangkan 11 gelar lagi sebelum pensiun di tahun 1999. Total, Graf memenangkan 22 gelar tunggal Grand Slam, lebih dari manusia manapun yang pernah lahir di planet ini, dan 14 di antaranya diraihnya di era 1990an, ketika prodigy seperti Seles dan Hingis mengganggu dominasinya dengan tidak main-main, belum lagi rival lama seperti Sanchez Vicario, Novotna, Sabatini, dan bahkan Navratilova yang belum berhenti mengganggu di era itu. Meraih prestasi sebanyak itu di tengah persaingan seketat itu cukup untuk membuat Steffi Graf the greatest female athlete of the 1990s.
1. Michael Jordan (bola basket, Amerika Serikat)
Siapa atlet yang paling identik dengan dekade 1990an? Siapa atlet yang paling ‘menjual’ di masa itu? Siapa atlet terbesar di akhir abad 20? Silakan cari jawaban lain dan kemukakan alasan anda, semoga itu cukup untuk melebihi Michael Jordan. Karena menurut saya, dia memiliki semacam kekuatan superhuman yang membuat era 1990an pantas dikenang, dan saya tidak perlu panjang lebar menunjukkan statistik tentang sehebat apa dia, apa yang telah diraihnya, dan berapa juta baju Chicago Bulls, pernak-pernik NBA, dan sepatu Air Jordan yang terjual di seluruh dunia sepanjang dekade itu. Dia adalah simbol terbesar olahraga 1990an. Enough said.
Kembali ke
Atau Lihat Juga





No Comments » 